Blogger templates


  • Halaman Utama
  • Quran
    • Tafsir
    • Kisah dalam Quran
    • Israiliyyat
  • Menu 1
    • SRA Al-Suyuthi
  • Menu 2
  • Menu 3
  • Menu 4
  • 404 Error Page
  • Halaman Utama
  • Quran
    • Tafsir
    • Kisah dalam Quran
    • Israiliyyat
  • Hukum Tajwid
    • Mad
    • Waqaf
    • Hamzah
    • Qalqalah
    • Nun dan Tanwin
    • Nun dan Mim
    • Mim Sukun
    • Lam Sukun
    • Bertemu Dua Sukun
    • Tafkhim dan Tarqiq
    • Pertemuan Dua Huruf
  • Qiraat
    • Imam Nafi'
    • Imam Ibn Kathir
    • Imam Abu Amru al-Bashri
    • Imam Abu Aamir al-Dimasyqi
    • Imam Aashim al-Kufi
    • Iman Hamzah al-Kufi
    • Imam Kisaie al-Kufi
  • Tarannum
    • Sejarah
    • Bayyati
    • Nahawand
    • Rast
    • Hijaz
    • Saba
    • Jiharkah
    • Sikah
You are here : Home »
Showing posts with label Lembaran Diri. Show all posts
"Ya Allah...buatlah Islam ini kuat dengan masuknya salah satu dari kedua orang ini. Amr bin Hisham atau Umar bin Khattab." Salah satu dari doa Rasulullah pada saat Islam masih dalam tahap awal penyebaran dan masih lemah. Doa itu segera dikabulkan oleh Allah. Allah memilih Umar bin Khattab sebagai salah satu pilar kekuatan islam, sedangkan Amr bin Hisham meninggal sebagai Abu Jahal.
Umar bin Khattab dilahirkan 12 tahun setelah kelahiran Rasulullah saw. Ayahnya bernama Khattab dan ibunya bernama Khatmah. Perawakannya tinggi besar dan tegap dengan otot-otot yang menonjol dari kaki dan tangannya, jenggot yang lebat dan berwajah tampan, serta warna kulitnya coklat kemerah-merahan.
Beliau dibesarkan di dalam lingkungan Bani Adi, salah satu kaum dari suku Quraisy. Beliau merupakan  khalifah kedua didalam islam setelah Abu Bakar As Siddiq.
Nasabnya adalah Umar bin Khattab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qarth bin Razah bin 'Adiy bin Ka'ab binLu'ay bin Ghalib. Nasab beliau bertemu dengan nasab Nabi pada kakeknya Ka'ab. Antara beliau dengan Nabi selisih 8 kakek. lbu beliau bernama Hantamah binti Hasyim bin al-Mughirah al-Makhzumiyah. Rasulullah memberi beliau "kun-yah" Abu Hafsh (bapak Hafsh) karena Hafshah adalah anaknya yang paling tua; dan memberi "laqab" (julukan) al Faruq.

Umar bin Khattab masuk Islam
Sebelum masuk Islam, Umar bin Khattab dikenal sebagai seorang yang keras permusuhannya dengan kaum Muslimin, bertaklid kepada ajaran nenek moyangnya, dan melakukan perbuatan-perbuatan jelek yang umumnya dilakukan kaum jahiliyah, namun tetap bisa menjaga harga diri. Beliau masuk Islam pada bulan Dzulhijah tahun ke-6 kenabian, tiga hari setelah Hamzah bin Abdul Muthalib masuk Islam.
Ringkas cerita, pada suatu malam beliau datang ke Masjidil Haram secara sembunyi-sembunyi untuk mendengarkan bacaan shalat Nabi. Waktu itu Nabi membaca surat al-Haqqah. Umar bin Khattab kagum dengan susunan kalimatnya lantas berkata pada dirinya sendiri- "Demi Allah, ini adalah syair sebagaimana yang dikatakan kaum Quraisy." Kemudian beliau mendengar Rasulullah membaca ayat 40-41 (yang menyatakan bahwa Al Qur'an bukan syair), lantas beliau berkata, "Kalau begitu berarti dia itu dukun." Kemudian beliau mendengar bacaan Nabi ayat 42, (Yang menyatakan bahwa Al-Qur'an bukan perkataan dukun.) akhirnya beliau berkata, "Telah terbetik lslam di dalam hatiku." Akan tetapi karena kuatnya adat jahiliyah, fanatik buta, pengagungan terhadap agama nenek moyang, maka beliau tetap memusuhi Islam.
Kemudian pada suatu hari, beliau keluar dengan menghunus pedangnya bermaksud membunuh Nabi. Dalam perjalanan, beliau bertemu dengan Nu`aim bin Abdullah al 'Adawi, seorang laki-laki dari Bani Zuhrah. Lekaki itu berkata kepada Umar bin Khattab, "Mau kemana wahai Umar?" Umar bin Khattab menjawab, "Aku ingin membunuh Muhammad." Lelaki tadi berkata, "Bagaimana kamu akan aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhrah, kalau kamu membunuh Muhammad?" Maka Umar menjawab, "Tidaklah aku melihatmu melainkan kamu telah meninggalkan agama nenek moyangmu." Tetapi lelaki tadi menimpali, "Maukah aku tunjukkan yang lebih mencengangkanmu, hai Umar? Sesuugguhnya adik perampuanmu dan iparmu telah meninggalkan agama yang kamu yakini."
Kemudian dia bergegas mendatangi adiknya yang sedang belajar Al Qur'an, surat Thaha kepada Khabab bin al Arat. Tatkala mendengar Umar bin Khattab datang, maka Khabab bersembunyi. Umar bin Khattab masuk rumahnya dan menanyakan suara yang didengarnya. Kemudian adik perempuan Umar bin Khattab dan suaminya berkata, "Kami tidak sedang membicarakan apa-apa." Umar bin Khattab menimpali, "Sepertinya kalian telah keluar dari agama nenek moyang kalian." Iparnya menjawab, "wahai Umar, apa pendapatmu jika kebenaran itu bukan berada pada agamamu?"  Mendengar ungkapan tersebut Umar bin Khattab memukulnya hingga terluka dan berdarah, karena tetap saja saudaranya itu mempertahankan agama Islam yang dianutnya, Umar bin Khattab berputus asa dan menyesal melihat darah mengalir pada iparnya.
Umar bin Khattab berkata, 'Berikan kitab yang ada pada kalian kepadaku, aku ingin membacanya.' Maka adik perempuannya berkata," Kamu itu kotor. Tidak boleh menyentuh kitab itu kecuali orang yang bersuci. Mandilah terlebih dahulu!" lantas Umar bin Khattab mandi dan mengambil kitab yang ada pada adik perempuannya. Ketika dia membaca surat Thaha, dia memuji dan muliakan isinya, kemudian minta ditunjukkan keberadaan Rasulullah.
Tatkala Khabab mendengar perkataan Umar bin Khattab, dia muncul dari persembunyiannya dan berkata, "Aku akan beri kabar gembira kepadamu, wahai Umar! Aku berharap engkau adalah orang yang didoakan Rasulullah pada malam Kamis, 'Ya Allah, muliakan Islam.dengan Umar bin Khatthab atau Abu Jahl (Amru) bin Hisyam.' Waktu itu, Rasulullah berada di sebuah rumah di daerah Shafa." Umar bin Khattab mengambil pedangnya dan menuju rumah tersebut, kemudian mengetuk pintunya. Ketika ada salah seorang melihat Umar bin Khattab datang dengan pedang terhunus dari celah pintu rumahnya, dikabarkannya kepada Rasulullah. Lantas mereka berkumpul. Hamzah bin Abdul Muthalib bertanya, "Ada apa kalian?" Mereka menjawab, 'Umar (datang)!" Hamzah bin Abdul Muthalib berkata, "Bukalah pintunya. Kalau dia menginginkan kebaikan, maka kita akan menerimanya, tetapi kalau menginginkan kejelekan, maka kita akan membunuhnya dengan pedangnya." Kemudian Nabi menemui Umar bin Khattab dan berkata kepadanya. "... Ya Allah, ini adalah Umar bin Khattab. Ya Allah, muliakan Islam dengan Umar bin Khattab." Dan dalam riwayat lain: "Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan Umar."
Seketika itu pula Umar bin Khattab bersyahadat, dan orang-orang yang berada di rumah tersebut bertakbir dengan keras. Menurut pengakuannya dia adalah orang yang ke-40 masuk Islam. Abdullah bin Mas'ud berkomentar, "Kami senantiasa berada dalam kejayaan semenjak Umar bin Khattab masuk Islam."

Kepemimpinan Umar bin Khattab
Keislaman beliau telah memberikan andil besar bagi perkembangan dan kejayaan Islam. Beliau adalah pemimpin yang adil, bijaksana, tegas, disegani, dan selalu memperhatikan urusan kaum muslimin. Pemimpin yang menegakkan ketauhidan dan keimanan, merobohkan kesyirikan dan kekufuran, menghidupkan sunnah dan mematikan bid'ah. Beliau adalah orang yang paling baik dan paling berilmu tentang al-Kitab dan as-Sunnah setelah Abu Bakar As Siddiq.
Kepemimpinan Umar bin Khattab tak seorangpun yang dapat meragukannya. Seorang tokoh besar setelah Rasulullah SAW dan Abu Bakar As Siddiq. Pada masa kepemimpinannya kekuasaan islam bertambah luas. Beliau berhasil menaklukkan Persia, Mesir, Syam, Irak, Burqah, Tripoli bagian barat, Azerbaijan, Jurjan, Basrah, Kufah dan Kairo.
Dalam masa kepemimpinan sepuluh tahun Umar bin Khattab itulah, penaklukan-penaklukan penting dilakukan Islam. Tak lama sesudah Umar bin Khattab memegang tampuk kekuasaan sebagai khalifah, pasukan Islam menduduki Suriah dan Palestina, yang kala itu menjadi bagian Kekaisaran Byzantium. Dalam pertempuran Yarmuk (636), pasukan Islam berhasil memukul habis kekuatan Byzantium. Damaskus jatuh pada tahun itu juga, dan Darussalam menyerah dua tahun kemudian. Menjelang tahun 641, pasukan Islam telah menguasai seluruh Palestina dan Suriah, dan terus menerjang maju ke daerah yang kini bernama Turki. Tahun 639, pasukan Islam menyerbu Mesir yang juga saat itu di bawah kekuasaan Byzantium. Dalam tempo tiga tahun, penaklukan Mesir diselesaikan dengan sempurna.
Penyerangan Islam terhadap Irak yang saat itu berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Persia telah mulai bahkan sebelum Umar bin Khattab naik jadi khalifah. Kunci kemenangan Islam terletak pada pertempuran Qadisiya tahun 637, terjadi di masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Menjelang tahun 641, seseluruh Irak sudah berada di bawah pengawasan Islam. Dan bukan hanya itu, pasukan Islam bahkan menyerbu langsung Persia dan dalam pertempuran Nehavend (642), mereka secara menentukan mengalahkan sisa terakhir kekuatan Persia. Menjelang wafatnya Umar bin Khattab di tahun 644, sebagian besar daerah barat Iran sudah terkuasai sepenuhnya. Gerakan ini tidak berhenti tatkala Umar bin Khattab wafat. Di bagian timur mereka dengan cepat menaklukkan Persia dan bagian barat mereka mendesak terus dengan pasukan menyeberang Afrika Utara. 
Selain pemberani, Umar bin Khattab juga seorang yang cerdas. Dalam masalah ilmu diriwayatkan oleh Al Hakim dan Thabrani dari Ibnu Mas’ud berkata, ”Seandainya ilmu Umar bin Khattab diletakkan pada tepi timbangan yang satu dan ilmu seluruh penghuni bumi diletakkan pada tepi timbangan yang lain, niscaya ilmu Umar bin Khattab lebih berat dibandingkan ilmu mereka. Mayoritas sahabatpun berpendapat bahwa Umar bin Khattab menguasai 9 dari 10 ilmu. Dengan kecerdasannya beliau menelurkan konsep-konsep baru, seperti menghimpun Al Qur’an dalam bentuk mushaf, menetapkan tahun hijriyah sebagai kalender umat Islam, membentuk kas negara (Baitul Maal), menyatukan orang-orang yang melakukan sholat sunah tarawih dengan satu imam, menciptakan lembaga peradilan, membentuk lembaga perkantoran, membangun balai pengobatan, membangun tempat penginapan, memanfaatkan kapal laut untuk perdagangan, menetapkan hukuman cambuk bagi peminum "khamr" (minuman keras) sebanyak 80 kali cambuk, mencetak mata uang dirham, audit bagi para pejabat serta pegawai dan juga konsep yang lainnya.
Namun dengan begitu beliau tidaklah menjadi congkak dan tinggi hati. Justru beliau seorang pemimpin yang zuhud lagi wara’. Beliau berusaha untuk mengetahui dan memenuhi kebutuhan rakyatnya. Dalam satu riwayat Qatadah berkata, ”Pada suatu hari Umar bin Khattab memakai jubah yang terbuat dari bulu domba yang sebagiannnya dipenuhi dengan tambalan dari kulit, padahal waktu itu beliau adalah seorang khalifah, sambil memikul jagung ia lantas berjalan mendatangi pasar untuk menjamu orang-orang.” Abdullah, puteranya berkata, ”Umar bin Khattab berkata, ”Seandainya ada anak kambing yang mati di tepian sungai Eufrat, maka umar merasa takut diminta pertanggung jawaban oleh Allah SWT.”
Beliaulah yang lebih dahulu lapar dan yang paling terakhir kenyang, Beliau berjanji tidak akan makan minyak samin dan daging hingga seluruh kaum muslimin kenyang memakannya…
Tidak diragukan lagi, khalifah Umar bin Khattab adalah seorang pemimpin yang arif, bijaksana dan adil dalam mengendalikan roda pemerintahan. Bahkan ia rela keluarganya hidup dalam serba kekurangan demi menjaga kepercayaan masyarakat kepadanya tentang pengelolaan kekayaan negara. Bahkan Umar bin Khattab sering terlambat salat Jum'at hanya menunggu bajunya kering, karena dia hanya mempunyai dua baju.
Kebijaksanaan dan keadilan Umar bin Khattab ini dilandasi oleh kekuatirannya terhadap rasa tanggung jawabnya kepada Allah SWT. Sehingga jauh-jauh hari Umar bin Khattab sudah mempersiapkan penggantinya jika kelak dia wafat. Sebelum wafat, Umar berwasiat agar urusan khilafah dan pimpinan pemerintahan, dimusyawarahkan oleh enam orang yang telah mendapat ridha Nabi SAW. Mereka adalah Utsman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, Thalhah bin Ubaidilah, Zubair binl Awwam, Sa'ad bin Abi Waqqash, dan Abdurrahman bin Auf. Umar menolak menetapkan salah seorang dari mereka, dengan berkata, aku tidak mau bertanggung jawab selagi hidup sesudah mati. Kalau AIlah menghendaki kebaikan bagi kalian, maka Allah akan melahirkannya atas kebaikan mereka (keenam orang itu) sebagaimana telah ditimbulkan kebaikan bagi kamu oleh Nabimu.

Wafatnya Umar bin Khattab
Pada hari Rabu bulan Dzulhijah tahun 23 H Umar Bin Kattab wafat, Beliau ditikam ketika sedang melakukan Shalat Subuh oleh seorang Majusi yang bernama Abu Lu’luah, budak milik al-Mughirah bin Syu’bah diduga ia mendapat perintah dari kalangan Majusi. Umar bin Khattab dimakamkan di samping Nabi saw dan Abu Bakar as Siddiq, beliau wafat dalam usia 63 tahun.




Abu Bakar as-Siddiq (bahasa Arab: أبو بكر الصديق‎ AbÅ« Bakr al-SiddÄ«q) ialah khalifah pertama orang Muslim dari tahun 632-634. Beliau pada awalnya digelar Abdul Kaabah (hamba Kaabah) tetapi selepas pengislamannya, beliau menukar namanya kepada Abdullah. Namun beliau selalu digelar Abu Bakar (daripada perkataan Arab Bakar yang bermaksud unta muda) kerana beliau amat gemar membiak unta. Beliau amat terkenal dengan gelaran As-Siddiq (yang membenarkan). Nama sebenar beliau ialah Abdullah ibni Abi Qahafah.
 Kehidupan awal
Saidina Abu Bakar As-Siddiq merupakan sahabat Nabi Muhammad s.a.w. yang paling rapat sekali. Semasa Nabi Muhammad s.a.w. berhijrah dari Makkah ke Madinah pada tahun 622, hanya beliau seorang yang mengikuti Rasulullah s.a.w. tanpa ditemani oleh orang lain. Rasulullah S.A.W mengahwini anak perempuan beliau iaitu Saidatina Aishah tidak lama selepas penghijrahan ke Madinah berlaku. Pernah menjadi kaya, dia juga dikenangi kerana jasanya membebaskan beberapa hamba yang beragama Islam daripada tuan mereka yang kafir termasuklah Bilal Bin Rabah. Beliau juga merupakan salah seorang Muslim yang pertama sekali memeluk Islam. Beliau seorang yang jujur, berbudi pekerti, adil, tegas dan memiliki sifat yang terpuji. Dilahirkan 2 tahun selepas kelahiran Rasulullah S.A.W.

Menjadi khalifah pertama

Semasa Rasulullah s.a.w. sedang sakit tenat, baginda mengarahkan supaya Saidina Abu Bakar mengimamkan solat orang Islam. Selepas kewafatan Nabi Muhammad s.a.w., sebuah majlis yang dihadiri oleh golongan Ansar dan Muhajirin ditubuhkan untuk melantik seorang khalifah bagi memimpin umat Islam. Hasil daripada perjumpaan itu, Saidina Abu Bakar dilantik dan menjadi khalifah pertama umat Islam.

Perlantikan Saidina Abu Bakar mendapat tentangan daripada beberapa orang yang ingin melantik Saidina Ali Abi Talib sebagai khalifah kerana Saidina Ali merupakan menantu dan anak saudara Rasulullah s.a.w. Golongan Syiah yang merupakan golongan daripada keluarga Bani Hashim menentang perlantikan Saidina Abu Bakar. Tentangan itu tamat selepas Saidina Ali Abi Talib membaihkan Saidina Abu Bakar. Ada pendapat mengatakan bahawa Saidina Ali Abi Talib hanya membaihkan Saidina Abu Bakar selepas enam bulan.
Peperangan Islam-Riddah
Masalah mula timbul apabila Saidina Abu Bakar dilantik menjadi khalifah. Masalah ini mengugat kestabilan dan keamanan kerajaan Islam. Banyak puak-puak Arab memberontak dan menentang khalifah. Sesetengah daripada mereka enggan membayar zakat manakala ada pula yang kembali kepada menyembah berhala dan mengikut tradisi lama mereka. Puak-puak ini mendakwa bahawa mereka hanya menurut perintah Rasulullah s.a.w. dan memandangkan Rasulullah s.a.w. telah wafat maka mereka tidak perlu lagi mengikut ajaran Islam dan mereka telah bebas.

Saidina Abu Bakar menegaskan bahawa mereka bukan sahaja menyatakan taat sembah kepada seorang pemimpin malah mereka kini tergolong dalam golongan Muslim. Ada diantara mereka mendakwa bahawa mereka ialah nabi dan rasul. Bagi menumpaskan penghinaan dan perbuatan murtad ini maka Saidina Abu Bakar melancarkan perang terhadap golongan yang digelar golongan Riddah. Hal ini merupakan permulaan siri Peperangan Islam-Riddah. Antara orang yang mengaku menjadi nabi ialah Musailamah al-Kazzab. Khalid Al-Walid berjaya menumpaskan Musailimah dalam suatu pertempuran.
Ekspedisi ke Utara
Selepas berjaya mengurangkan golongan riddah, Syaidina Abu Bakar mula menghantar panglima-panglima perang Islam ke utara untuk memerangi Byzantine (Rom Timur) dan Empayar Parsi. Khalid Al-Walid berjaya menawan Iraq dalam hanya satu kempen ketenteraan. Beliau juga menempuh kejayaan dalam beberapa ekspedisi ke Syria. Menurut seorang orientalis Barat, kempen Saidina Abu Bakar hanyalah sebuah lanjutan daripada Perang Riddah. Hal ini jelas salah memandangkan kebanyakan golongan riddah terletak di selatan Semenanjung Arab dan bukannya di utara.

Pengumpulan al-Quran
Menurut ahli sejarah Islam, selepas siri Peperangan Islam-Riddah ramai orang yang mahir menghafaz al-Quran terbunuh. Saidina Umar Al-Khatab (khalifah yang berikutnya) meminta Saidina Abu Bakar untuk mula menjalankan aktviti pengumpulan semula ayat-ayat al-Quran. Saidina Uthman Affan kemudiannya melengkapkan aktiviti pengumpulan al-Quran semasa beliau menjadi khalifah.

Kewafatan Saidina Abu Bakar
Saidina Abu Bakar wafat pada 23 Ogos 634 di Madinah iaitu dua tahun selepas menjadi khalifah. Ada dua pendapat mengenai sebab kematian Saidina Abu Bakar. Ada yang mengatakan disebabkan keracunan dan ada pula yang mengatakan Saidina Abu Bakar meninggal dunia secara biasa. Sebelum kewafatannya, Saidina Abu Bakar mengesa masyarakat menerima Saidina Umar Al-Khatab sebagai khalifah yang baru.

Saidina Abu Bakar dikebumikan di sebelah makam Nabi Muhammad s.a.w. di Masjid an-Nabawi yang terletak di Madinah.
Sumbangan Saidina Abu Bakar
Saidina Abu Bakar walaupun hanya memerintah selama dua tahun (632-634), tetapi beliau banyak menyumbang terhadap perkembangan Islam. Beliau berjaya menumpaskan golongan Riddah yang ada diantaranya murtad dan ada diantaranya mengaku sebagai nabi. Beliau juga mula mengumpulkan ayat-ayat al-Quran dan beliau juga berjaya meluaskan pengaruh Islam.

Dan segi umur, Saiyidina Abu Bakar R.A. adalah dua tahun lebih muda dan Rasulullah S.A.W. dan telah menjalin persahabatan yang akrab dengan baginda Rasul lama sebelum Rasulullah S.A.W. menjadi Rasul. Beliaulah tokoh sahabat besar yang dianggap paling banyak sekali berkorban harta benda untuk menegakkan agama Islam di samping Nabi Muhammad S.A.W. Kerana besarnya pengorbanan beliau itulah Rasulullah S.A.W. pernah mengatakan bahawa Islam telah tegak di atas harta Siti Khadijah dan pengorbanan Saiyidina Abu Bakar R.A. Adapun gelaran Al-Siddiq yang diberikan kepadanya itu adalah kerana sikapnya yang selalu membenarkan apa sahaja kata-kata mahupun perbuatan Nabi Muhammad S.A.W. Dalam hal ini elok kita petik suatu kisah seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud yang dicenitakan sendiri kepadanya oleh Saiyidina Abu Bakar, tentang bagaimana Saiyidina Abu Bakar R.A. memeluk agama Islam.
Kisah keislaman Saidina Abu Bakar
Kata Saiyidina Abu Bakar R.A. ketika menceritakan suatu kisah mengenai dirinya kepada Ibnu Mas’ud, “Aku pernah mengunjungi seorang tua di negeri Yaman. Dia rajin membaca kitab-kitab dan mengajar banyak munid. Dia berkata kepadaku:
“Aku kira tuan datang dan Tanah Haram.
“Benar, jawabku.
“Aku kira tuan berbangsa Quraisy?
“Benar, ujarku lagi.
“Dan apa yang aku lihat, tuan dan keluarga Bani Taiyim?
“Benarlah begitu, tambahku selanjutnya.
Orang tua itu terus menyambung, katanya, “Ada satu lagi hal yang hendak aku tanyakan dari tuan, iaitu tentang diri tuan sendiri. Apakah tak keberatan jika aku lihat perutmu?
Maka pada ketika itu aku pun berkata, “Aku keberatan hendak memperlihatkan selagi tuan tidak nyatakan kepadaku perkara yang sebenarnya.
Maka ujar orang tua itu, “Aku sebenarnya melihat dalam ilmuku yang benar bahawa seorang Nabi Allah akan diutus di Tanah Haram. Nabi itu akan dibantu oleh dua onang sahabatnya, yang seorang masih muda dan seorang lagi sudah separoh umur. Sahabatnya yang muda itu berani berjuang dalam segenap lapangan dan menjadi pelindungnya dalam sebarang kesusahan. Sementara yang separoh umur itu putih kulitnya dan berbadan kurus, ada tahi lalat di perutnya dan ada suatu tanda di paha kirinya. Apalah salahnya kalau tuan perlihatkan kepadaku.
Maka sesudah dia berkata itu aku pun membuka pakaianku lalu orang tua itu pun melihatlah tahi lalat hitam di atas bahagian pusatku seraya berkata, “Demi Tuhan yang menguasai Kaabah, tuanlah orangnya itu!
Kemudian orang tua itu pun memberi sedikit nasihat kepadaku. Aku tinggal di Yaman untuk beberapa waktu kenana mengurusi perniagaanku dan sebelum meninggalkan negeri itu aku sekali lagi pergi menemui orang tua tersebut untuk mengucapkan selamat tinggal kepadanya. Kemudian dia lalu bertanya, “Bolehkah tuan menyampaikan beberapa rangkap syairku?
“Boleh sahaja, jawabku.
Setelah itu aku pun membawa pulang syair-syair itu ke Mekah. Setibanya aku di Mekah, para pemuda bergegas datang menemuiku seraya berkata, “Adakah engkau tahu yang sudah terjadi? Maka ujarku pula, “Apakah yang terjadi itu?
Jawab mereka, “Si yatim Abu Talib kini mengaku menjadi Nabi! Kalaulah tidak mengingat engkau hai Abu Bakar, sudah lama kami selesaikan dia. Engkaulah satu-satunya yang kami harapkan untuk menyelesaikannya.
Kemudian aku pun meminta mereka pulang dahulu sementara aku sendiri pergi menemui Muhammad. Setelah menemuinya aku pun mengatakan, “Wahai Muhammad, tuan telah mencemarkan kedudukan keluarga tüan dan aku mendapat tahu tuan terang-terang telah menyeleweng dan kepercayaan nenek moyang kita.
Maka ujar baginda, “Bahawa aku adalah Pesuruh Allah yang diutuskan untukmu dan untuk sekelian ummat!
Aku pun bertanya kepada baginda, “Apa buktinya?
Jawabnya, “Orang tua yang engkau temui di Yaman tempoh hari.
Aku menambah lagi, “Orang tua yang mana satukah yang tuan maksudkan kerana ramai orang tua yang aku temui di Yaman itu?
Baginda menyambung, “Orang tua yang mengirimkan untaian syair kepada engkau!
Aku terkejut mendengarkannya lalu bertanya, “Siapakah yang telah memberitahu tuan, wahai sahabatku?
Maka ujar baginda, “Malaikat yang pernah menemui Nabi-nabi sebelumku.
Akhirnya aku benkata, “Hulurkan tangan tuan, bahawa dengan sesungguhnya aku naik saksi tiada Tuhan yang kusembah melainkan Allah, dan tuan (Muhammad) sebenarnya Pesuruh Allah.
Demikianlah kisah indah yang meniwayatkan bagaimana Islamnya Saiyidina Abu Bakan Al-Siddiq. Dan memanglah menurut riwayat beliau merupakan lelaki yang pertama yang beriman kepada Rasulullah S.A.W.
Keislaman Saiyidina Abu Bakan Al-Siddiq R.A. telah membawa penganuh besar di kalangan kaum bangsawan Quraisy kerana dari pengaruh keislamannya itulah maka beberapa orang pemuda   bangsawan Quraisy seperti Saiyidina Uthman Bin Affan, Abdul Rahman Bin Auf, dan Saad Bin Waqqas menuruti jejak langkahnya. Semenjak beliau memeluk Islam, Saiyidina Abu Bakan R.A. telah menjadi pembela Islam yang paling utama serta seorang sahabat yang paling akrab serta paling dicintai oleh Rasulullah S.A.W. Sebagai memperlihatkan kecintaan baginda terhadap Saiyidina Abu Bakar R.A., dapat kita ketahui dan satu dialog yang terjadi antara baginda Rasul dengan Amru Bin Al As. Amru seorang sahabat Rasulullah S.A.W. pernah suatu han menanyakan Rasul, “Siapakah di antara manusia yang paling tuan sayangi? Baginda menjawab, “Siti Aisyah, dan kalau laki-laki adalah bapanya.
Selain danipada itu Saiyidina Abu Bakar Al-Siddiq R.A. adalah seonang sahabat yang terkenal kerana keteguhan imannya, cendas akal, tinggi akhlak, lemah lembut dan penyantun. Rasulullah S.A.W. pernah menyanjungi sahabatnya itu dengan sabdanya, “Jika ditimbang iman Abu Bakan Al-Siddiq dengan iman sekelian ummat maka berat lagi iman Abu Bakan. Demikian teguhnya iman Saiyidina Abu Bakan R.A. demi apakala kita memperhatikan pengertian yang terkandung pada sabda Rasulullah S.A.W. mengenai dirinya itu. Gelaran AlSiddiq yang dibenikan orang terhadap diri Saiyidina Abu Bakan R.A. adalah lantaran memandang sikap serta pendiriannya yang teguh dalam membenarkan serta membela din Rasulullah S.A.W. Andainya sekelian ummat manusia akan mendustakan Muhammad S.A.W. Abu Bakar R.A. akan pasti pula tampil dengan penuh keyakinan untuk membelanya.
Tidak beberapa lama setelah memeluk agama Islam, Saiyidma Abu Bakar yang terkenal sebagai saudagar yang kaya itu telah meninggalkan perdagangannya dan meninggalkan semua usaha peribadi lain-lainnya lalu menyerahkan segenap kekayaan dan jiwa raganya untuk melakukan penjuangan menegakkan Islam bersama Nabi Muhammad S.A.W. sehingga oleh kerana kegiatannya maka Agama Islam mendapat kemegahan dengan Islamnya beberapa pemuda Quraisy yang lain seperti yang telah disebutkan itu. Beliau telah mengorbankan seluruh hanta bendanya untuk menebus orang-orang yang ditawan, orang-orang yang ditangkap atau disiksa. Selain danpada itu beliau juga telah membeli hamba-hamba yang kemudian dimerdekakannya. Salah seorang hamba yang dibelinya lalu kemudian dibebaskan yang paling terkenal dalam sejarah ialah Bilal Bin Rabah.
Tatkala Nabi Muhammad selesai melakukan Isra’ dan Mikraj segolongan orang yang kurang mempercayai apa yang telah dikhabarkan Rasulullah S.A.W. telah pergi menemui Saiyidina Abu Bakan R.A. untuk mendengarkan apa pendapatnya tentang dakwaan Muhammad S.A.W.  itu. Tujuan kedatangan mereka mendapatkan Abu Bakar R.A. tidak lain dengan prasangka tentunya Abu Bakar R.A. kali ini akan mendustakan kisah yang tidak masuk akal pada fikiran mereka itu. Setelah pertanyaan itu disampaikan kepada Abu Bakar R.A. lalu beliau pun berkata, “Adakah Muhammad berkata begitu? Sahut mereka, “Benar! Maka ujar Saiyidina Abu Bakar R.A. “Jika Muhammad berkata begitu maka sungguh benarlah apa yang diceritakan itu. Lalu mereka pun terus menyambung, “Engkau percaya hai Abu Bakar bahawa Muhammad sampai ke tanah Syam lebih sebulan perjalanan pulang, di malam semalam tadi? Maka sahut Abu Bakan sungguh-sungguh, “Benar! Aku percaya! Malah lebih dan itu aku percaya kepadanya. Aku percaya akan berita dan langit diberitakannya baik pada waktu slang mahupun di waktu malam! Demikian hebatnya sambutan sahabat yang paling utama itu. Kerana tegas dan teguhnya iman beliau terhadap agama yang dibawa oleh Muhammad dan terhadap apa yang dikhabarkan oleh baginda maka beliau telah diberi oleh Rasulullah S.A.W. dengan gelaran Al-Siddiq, entinya yang benar.
Dan memanglah tidak menghairankan sekali sikap Abu Bakar itu. Beliau telah kenal akan Muhammad S.A.W. bukan sehari dua, melainkan sudah boleh dikatakan seumur manusia. Beliau tahu bahawa sahabatnya itu benkata benar, tak pernah bohong; orang amin. Mustahil baginda akan khianat kepada pengikutnya yang pencaya kepadanya. Beliau mengimani sahabatnya itu Pesunuh Allah Yang Maha Kuasa, menenima wahyu danipada Tuhannya. Beliau sudah bertahun-tahun mengikutkan petunjuk yang diwahyukan oleh Allah kepada sahabatnya itu maka telah teguhlah iman dalam hatinya.
Tatkala keadaan kekejaman orang-orang musynikin Quraisy tenhadap kaum Muslimin yang sedikit jumlahnya di Mekah semakin hebat dan membahayakan, Nabi Muhammad S.A.W. telah mengadakan permusyuaratan di numah Saiyidina Abu Bakan R.A. untuk mencani jalan keluar danipada kesulitan yang sedang dihadapi oleh pihak kaum Muslimin. Ketika itulah Rasulullah S.A.W. menjelaskan kepada Saiyidina Abu Bakan R.A. bahawa Allah S.W.T. telah memerintahkan baginda supaya melakukan hijrah ke Madinah serta meminta Saiyidina Abu Bakar R.A. supaya menemaninya dalam peristiwa hijrah tersebut. Dengan perasaan gembira tanpa sedikit kebimbanganpun Saiyidina Abu Bakar R.A. menyambut penmintaan Rasulullah S.A.W.
Dari pintu belakang rumah Saiyidina Abu Bakar R.A. Rasulullah S.A.W. bersama-sama Saiyidina Abu Bakar menuju ke Gunung Tsaur dan bersembunyi di gua yang dibeni nama Gua Tsaur. Pada saat suasana amat kritis, Saiyidina Abu Bakar R.A. diserang rasa kegelisahan dan cemas kerana khuatir kalau-kalau musuh dapat mengetahui di mana Rasulullah sedang bensembunyi, maka pada saat itu turun ayat suci Al Quran dari Surah Taubah yang isinya memuji Saiyidina Abu Bakan Al-Siddiq, sebagai orang kedua sesudah Nabi s,a.w. dalam Gua Tsaur. Dalam pada itu Rasulullah S.A.W. pun mengerti akan situasi dan kegelisahan sahabatnya itu yang oleh kerananya Rasul benkata, “Apakah yang menggelisahkanmu, bukankah Allah menemani kita?
Kemudian Rasulullah S.A.W., diriwayatkan berkata selanjutnya untuk menghilangkan kebimbangan Saiyidina Abu Bakan, “Kiranya mereka masuk juga ke dalam gua ini kita masih dapat melepaskan diri dari pintu belakang itu, ujar Rasul sambil menunjukkan ke belakang mereka. Saiyidina Abu Bakar R.A. pun menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya beliau bila dilihatnya pintu belakang yang ditunjuk oleh Rasul itu, padahal pintu tersebut tadinya tidak ada sama sekali. Sebenarnya kebimbangan Abu Bakar R.A. tatkala di dalam gua itu bukanlah kerana takutkan nyawanya akan diragut oleh pihak musuh tetapi yang lebih dibimbangkannya ialah keselamatan jiwa baginda Rasul. Beliau pennah berkata, “Yang saya bimbangkan bukanlah mengenai diri saya sendiri, kalau saya terbunuh, yang tewas hanyalah seorang manusia biasa. Tapi andaikata tuan sendiri dapat dibunuhnya maka yang akan hancur ialah satu cita-cita yang suci murni. Yang akan runtuh ialah keadilan dan yang akan tegak pula ialah kezaliman.
Ucapan antana dua orang sahabat tatkala dalam gua itu ada tersebut dalam Al Quran dalam Surah Al Baqarah ayat 40: “Kalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) ketika dia diusir oleh orang-orang kafir (dan kampung halamannya), dalam keadaan berdua orang sahaja di dalam suatu gua, Di kala itu dia (Muhammad) berkata kepada sahabat karibnya (Abu Bakar): Jangan engkau berdukacita; sesungguhnya Tuhan bensama kita. Tuhan menurunkan ketenanganNya kepadanya, dan dikuatkannya dengan tentera yang tidak kamu lihat. Dan Tuhan menjadikan perkataan orang yang kafir itu paling rendah dan perkataan Tuhan itu yang amat tinggi. Dan Tuhan Maha Kuasa dan Bijaksana.
Demikian satu lagi keistimewaan Saiyidina Abu Bakar AlSiddiq sebagai seorang sahabat yang sama-sama mengalami kesukaran dan kepahitan bersama-sama Rasulullah dalam menyampaikan seruan Islam. Saiyidina Abu Bakar R.A. tidak bercerai jauh dengan baginda Rasul sepanjang hidupnya dan menyertai semua peperangan yang dihadapi oleh baginda. Beliau bukan sahaja berjuang menegakkan Agama Islam dengan segenap jiwa raganya bahkan juga dengan harta kekayaannya. Sungguh beliaulah yang paling banyak sekali berkorban harta untuk menegakkan Agama Islam. Bahkan seluruh kekayaannya telah habis dipergunakannya untuk kepentingan penjuangan menegakkan kalimah Allah. Di kalangan para sahabat beliaulah tergolong onang yang paling murah hati dan dermawan sekali.
Dalam Perang Tabuk misalnya, Rasulullah S.A.W. telah meminta kepada sekelian kaum Muslimin agar mengorbankan hartanya pada jalan Allah. Tiba-tiba datanglah Saiyidina Abu Bakan R.A. membawa seluruh harta bendanya lalu meletakkannya di antara dua tangan baginda Rasul. Melihat banyaknya harta yang dibawa oleh Saiyidina Abu Bakar R.A., bagi tujuan jihad itu maka Rasulullah S.A.W. menjadi terkejut lalu berkata kepadanya:
“Hal sahabatku yang budiman, kalau sudah semua hanta bendamu kau korbankan apa lagi yang akan engkau tinggalkan buat anak-anak dan isterimu?
Pertanyaan Rasulullah S.A.W. itu dijawab oleh Saiyidina Abu Bakar Al-Siddiq dengan tenang sambil tersenyum, ujarnya. “Saya tinggalkan buat mereka Allah dan RasulNya.
Demikianlah kehebatan jiwa Saiyidina Abu Bakar AlSiddiq, suatu contoh kemurahan hati yang memang tidak dijumpai bandingannya di dunia. Memandangkan besarnya pengorbanan beliau terhadap Islam maka wajarlah kalau Rasulullah bersabda bahawa tegaknya Agama Islam itu adalah lantaran hanta benda Siti Khadijah dan juga Saiyidina Abu Bakan Al-Siddiq. Tepatlah juga tatkala baginda bersabda bahawa kiranya iman seluruh ummat ditimbang bersama iman Saiyidina Abu Bakan R.A. maka berat lagi iman Saiyidina Abu Bakan R.A. Beliau memang manusia luar biasa kebesarannya yang telah ditakdirkan oleh Allah S.W.T. untuk menjadi teman akrab Rasulullah s.a.w
Pada suatu ketika di saat Rasulullah membaca khutbah yang antara lain menyatakan bahawa kepada seseorang hamba Allah ditawarkan untuk memilih dunia dan memilih ganjaran yang tersedia di sisi Allah, dan hamba Allah tersebut tidak akan memilih dunia, melainkan memilih apa yang tersedia di sisi Tuhan… Maka ketika meñdengar khutbah Nabi demikian itu Saiyidina Abu Bakar R.A. lalu menangis tersedu-sedu, kenana sedih dan terharu sebab beliau mendengar dan mengerti bahawa yang dimaksud dalam isi khutbah tersebut ialah bahawa umur kehidupan Rasul di dunia ini sudah hampir berakhir. Demikian kelebihan Saiyidina Abu Bakar R.A. di- banding dengan para sahabat yang lain kerana beliaulah yang mengetahui bahawa umur Rasul hampir dekat.
Keunggulan beliau dapat dilihat dengan jelas selepas wafatnya Rasulullah S.A.W. di kala mana ummat Islam hampir-hampir menjadi panik serta tidak percaya kepada kewafatannya. Bahkan sahabat besar Saiyidina Umar Al Khattab sendiri telah diselubungi kekacauan fikinan dan tampil ke muka umum sambil mencabar dan mengugut sesiapa sahaja yang berani mengatakan baginda telah wafat. Ujan Umar n.a., “Rasulullah tidak wafat, dia hanya pergi menghadap Allah sahaja seperti perginya Nabi Musa yang telah menghilangkan diri dan kaumnya selama empat puluh hari, kemudian pulang semula kepada kaumnya setelah diheboh-hebohkan wafatnya.
Ketika kegawatan itu berlaku Saiyidina Abu Bakar sedang berada di suatu kampung Al-Sunnah. Tatkala berita kewafatan Rasulullah itu sampai kepadanya, beliau dengan segera menuju ke Madinah. Di sana beliau dapati ramai orang sedang benkumpul mendengarkan pidato Saiyidina Umar Al Khattab tadi. Tanpa lengah-lengah lagi Saiyidina Abu Bakar terus ke rumah puterinya Siti Aisyah dan di sanalah beliau dapati mayat Rasulullah S.A.W. terbujur di satu sudut rumah. Beliau lantas membuka wajah Rasulullah dan mengucupkannya, sambil benkata, “Wahai, betapa cantiknya engkau ketika hidup dan betapa cantiknya engkau ketika mati! Kemudian beliau pun keluar mendapatkan orang ramai yang sedang dalam panik itu lalu berkata dengan nada yang keras:
“Wahai kaum Muslimin! Barangsiapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad telah mati. Tetapi barangsiapa yang menyembah Allah maka Allah selama-lamanya hidup tidak mati. Seraya menyambung membacakan sepotong ayat dan Al Qun’an:
“Muhammad itu tidak lebih dari seorang rasul seperti rasul-rasul yang terdahulu darinya. Jika ia mati atau terbunuh patutkah kamu berundur ke belakang. Sesiapa yang surut ke belakang, dia tidak akan membahayai Allah sedikit pun dan sesungguhnya Allah akan memberi ganjaran kepada orang-orang yang bersyukur.
Sejurus sahaja mendengar ayat itu, Saiyidina Umar Al Khattab pun terus rebah hingga barulah beliau dan orang ramai Islam yang telah mendengar pidatonya tadi mendapat kepastian bahawa Rasulullah sudah wafat. Kaum Muslimin tentunya telah pernah dengar ayat ini sebelumnya, kerana ayat itu telah turun semasa peperangan Uhud, ketika Rasulullah S.A.W. telah diberitakan mati terkorban dan menyebabkan banyak pejuang-pejuang Islam berundur ke Madinah. Tetapi mereka tidaklah memahami maksud ayat ini seperti yang difahami oleh Saiyidina Abu Bakar R.A. Ini jelas membuktikan kecerdasan Saiyidina Abu Bakar Al-Siddiq dalam memahami Islam.
Ketika Rasulullah S.A.W. wafat, baginda memang tidak meninggalkan pesan tentang siapa yang patut menggantikan baginda sebagai Khalifah ummat Islam. Tetapi setelah lama berbincang kaum Muslimin dengan suara ramai memilih Saiyidma Abu Bakan Al-Siddiq sebagai Khalifah setelah namanya itu dicalunkan oleh Saiyidina Umar Ibnul Khattab R.A. Pemilihan ini tentulah tepat sekali kenana pada pandangan kaum Muslimin memang beliaulah yang paling layak sekali memegang kedudukan itu memandangkan kelebihan-kelebihannya dari para sahabat yang lain. Apatah lagi beliaulah yang pernah ditunjuk oleh baginda Rasul semasa hayatnya untuk menggantikan baginda sebagai imam sembahyang tatkala baginda sedang uzur.
Setelah dipilih oleh sebahagian besar ummat ketika itu Saiyidina Abu Bakar Al-Siddiq pun memberikan ucapannya yang tenkenal yang antana lainnya baginda berkata:
“Wahai sekelian ummat! Aku telah dipilih menjadi pemimpin kamu padahal aku ini bukanlah orang yang terbaik di antara kamu. Sebab itu jika pemenintahanku baik, maka sokonglah, tetapi jika tiada baik, maka perbaikilah. Orang yang lemah di antara kamu adalah kuat pada sisiku hingga aku harus menolongnya mendapatkan haknya, sedang orang yang kuat di antara kamu adalah lemah pada sisiku, hingga aku harus mengambil hak orang lain yang berada di sisi nya, untuk dikembalikan kepada yang berhak semula. Patuhilah kepadaku selama aku patuh kepada Allah dan RasulNya. Akan tetapi jika aku mendurhakai Allah, maka kamu sekelian tak harus lagi patuh kepadaku.
Aku dipilih untuk memimpin urusan ini padahal aku enggan menerimanya. Demi Allah aku ingin benar kalau ada di antaramu orang yang cekap untuk urusan ini. Ketahuilah jika kamu meminta kepadaku agar aku berbuat sebagai yang telah dilakukan oleh Rasulullah S.A.W. sungguh aku tidak dapat memperkenankannya, Rasulullah adalah seorang hamba Allah yang dapat kurnia wahyu dari Tuhan, kerana itu baginda terpelihara dari kesalahan-kesalahan, sedang aku ini hanyalah manusia biasa yang tidak ada kelebihannya dari seorangpun juga di antara kamu.
Ini adalah satu pembaharuan dalam pemerintahan yang belum pernah dikenali oleh rakyat jelata kerajaan Rome dan Parsi yang memerintah dunia barat dan timur ketika itu. Baginda telah mematuhi manifesto politiknya. Baginda hidup seperti rakyat biasa dan sangat tidak suka didewa-dewakan. Adalah diriwayatkan bahawa pada satu masa ada orang memanggilnya, “Ya Khalifah Allah! Baginda dengan segena memintas cakap orang itu dengan katanya:
“Saya bukan Khalifah Allah, saya hanya Khalifah RasulNya!
Adalah diriwayatkan bahawa pada keesokan harinya iaitu sehari setelah baginda terpilih sebagai Khalifah, Saiyidina Abu Bakan R.A. kelihatan membawa barang perniagaannya ke pasar. Beberapa orang yang melihat itu lalu mendekati baginda, di antananya Abu Ubaidah Bin Janrah. Sahabat besar itu mendekati baginda seraya berkata, “Urusan Khalifah itu tidak boleh dicampuri dengan berniaga! Lalu Abu Bakar R.A. bertanya, “Jadi dengan apakah aku hidup, dan bagaimana aku membelanjai rumah tanggaku? Demikian sedihnya nasib yang menimpa Saiyidina Abu Bakar R.A. sebab walaupun kedudukannya sebagai Kepala Negara namun belum ada lagi ketetapan untuk bagi seseorang kepala pemenintah Islam memperolehi gaji dari hanta kerajaan.
Keadaan ini mendapat perhatian dari para sahabat lalu mereka menentukan tunjangan secukupnya buat baginda dan buat keluarga baginda yang diambil dari Baitul Mal. Kemudian itu baharulah Khalifah Abu Bakar meninggalkan usaha penniagaannya kerana hendak memusatkan selunuh tenaganya untuk mengembangkan agama Islam dan menjalankan tanggungjawabnya sebagai seorang Khalifah. Semasa hertugas sebagai Khalifah ummat Islam baginda hanya menerima penuntukan sebanyak enam ribu dirham sahaja setahun iaitu kira-kira lebih kurang 1,200 dolar sahaja setahun. Peruntukan itu tidak dibelanjakannya untuk keperluan dirinya malahan sebelum wafatnya baginda telah memenintahkan supaya pendapatannya itu diserahkan kembali kepada Baitul Mal.
Kebijaksanaan Abu Bakar R.A. juga ternyata dalam polisinya menyamakan pemberian elaun kepada orang-orang yang berhak agar mereka tidak dipisahkan oleh jurang-jurang perbezaan yang jauh agar tidak lahir satu golongan yang mendapat kedudukan yang lebih istimewa dan golongan-golongan yang lain. Sedangkan baginda sendiri hanya mengambil sekadar keperluan-keperluan asasi buat diri dan keluarganya.
Sebelum baginda wafat, kepada Saiyidina Umar Al Khattab baginda telah mewasiatkan agar jangan menghiraukan jenazahnya nanti bila baginda pulang ke rahmatullah, melainkan haruslah dia segera mengirim bala tentera ke Iraq untuk membantu Al Muthanna yang sedang bertempur di Iraq itu. Saiyidina Abu Bakar R.A. tidak lupa mengingatkan Saiyidma Umar R.A. apa yang dikerjakannya di waktu Rasulullah wafat dan bagaimana cintanya kepada Rasul dan perhatiannya kepada jenazah baginda yang suci itu tidak mengabaikannya dan melaksanakan kewajipan bianpun yang demikian itu amat berat bagi jiwanya. Dengarlah antara lain kata-katanya kepada Umar Ibnul Khattab R.A.:
“Denganlah hai Umar! Apa yang akan kukatakan ini dan laksanakanlah. Aku mengharap akan kembali ke hadrat Allah hari ini sebab itu sebelum matahani terbit pada esok hari engkau hendaknya telah mengirim bala hantuan kepada Al Muthanna. Janganlah hendaknya sesuatu bencana bagaimana pun besannya dapat melupakan kamu dan urusan agama dan wasiat Tuhan. Engkau telah melihat apa yang telah ku lakukan tatkala Rasulullah wafat sedang wafatnya Rasulullah itu adalah satu bencana yang belum pernah manusia ditimpa bencana yang sebesar itu. Demi Allah, andaikata di waktu itu aku melalaikan perintah Allah dan RasulNya, tentu kita telah jatuh dan mendapat siksaan Allah, dan pasti pula kota Madinah mi telah jadi lautan api.
Dalam masa pemerintahannya yang singkat Saiyidina Abu Bakan Al-Siddiq yang memerintah hanya dalam masa dua tahun sahaja itu telah meletakkan asas pembangunan sebuah pemenintahan Islam yang teguh dan kuat setelah berjaya mengatasi berbagai macam masalah dalam negeri dengan segala kebijaksanaan dan kewibawaannya. Baginda telah memenuhi segenap janji-janjinya dan dalam masa dua tahun pemerintahannya itu telah terbentuk rantai sejarah Islam yang merupakan lembaran-lembaran yang abadi.
Sungguh kehidupan Saiyidina Abu Bakar Al-Siddiq adalah penuh dengan ibarat, penuh dengan nasihat, penuh dengan ajaran serta kenang-kenangan yang indah mulia. Selama dua tahun pemerintahannya itu baginda telah berjaya menyusun tiang-tiang pokok dan kekuatan Islam. Baginda telah membangunkan kekuatan-kekuatan yang penting bagi memelihara kepercayaan kaum Muslimin dan bagi memelihara keagungan Agama Islam. Bahkan baginda telah mengakhiri niwayat pemerintahan yang dipimpinnya dengan menundukkan sebahagian daripada negeri Syam dan sebahagian danpada negeri Iraq, lalu pulang ke rahmatullah dengan dada yang lapang, ketika umur baginda menginjak 63 tahun. Baginda dikebumikan di samping makam Rasulullah S.A.W. di Masjid Madinah. Semoga niwayat serta penjuangan baginda menjadi contoh ibadat yang murni bagi sekelian kaum Muslimin.




“Ustaaazzz, Assalamualaikum!” terdengar suara kuat bertempik dari anjung surau.
Saya terkejut.
Capati dilepaskan kembali ke pinggan.
“Err, wa ‘alaikum al-Salaam” saya membalas salam beriringan dengan senyuman.
“Saya sudah lama mencari peluang mahu bertemu dengan ustaz. Nak minta tandatangan buku ni!” kata beliau.
Seorang anak gadis yang hadir bersama ke Kuliah Maghrib saya malam itu.
Pakcik-pakcik yang sedang menjamah hidangan ringan usai ceramah dan Solat Isyak itu nampak terkejut dengan keramahan anak gadis itu. Terkejut juga dengan saya yang baru pertama kali berceramah di situ… barangkali.
Saya serba salah.
“Ustaz, saya nak tanyalah. Apa tips untuk orang yang putus cinta ya?” kata anak gadis itu. Duduk bertimpuh hampir-hampir bertemu lutut mengadap saya. Hingga mengesot pakcik di sebelah memberi laluan.
“Err, saya tak pernah putus cinta. Fadhilat tidak bermain cinta barangkali. Rasanya ada belaka dalam buku-buku ini!” saya membalas ringkas.
“Pakcik, saya nak bergambar dengan Ustaz Hasrizal. Tolong ambilkan gambar kami!” kata anak gadis itu sambil menyerahkan kamera digitalnya kepada Pengerusi Surau.
Beliau segera duduk rapat. Saya pula yang segera bergerak menjauhkan diri kerana takut tersentuh beliau. Sesuatu yang tidak harus, apatah lagi untuk diabadikan dalam sebuah foto yang ‘penuh berkat’ kerana diambil oleh Pengerusi Surau.
“Eh, sekejap. Sekali lagi. Takut tak jadi pula. Nanti dah putus cinta, tambah masalah dengan gambar tak jadi!” kata Pengerusi Surau. Menyindir sambil bergurau.
“Ok, terima kasih pakcik. Terima kasih ustaz. Seronoknya saya dapat jumpa ustaz. Assalamualaikoooommmm!” katanya sambil melambai tangan kepada kami.
Muka saya merah padam. Telinga pun panas. Pelbagai perasaan bercampur aduk.
MAKIN MENJADI-JADI
Sesungguhnya saya sangat tidak suka dengan perkembangan setahun dua ini apabila ramai Muslimah mahu bergambar bersama. Yang beramai-ramai itu satu bab, ini yang solo pun satu isu juga. Mahu sahaja saya tolak mentah-mentah. Tetapi tak tergamak mengaibkan dia di depan orang ramai.
Sekadar memberi peringatan sahaja.
“Panggillah kawan-kawan lain,” saya cuba mengelak bergambar solo dengan perempuan.
“Ehh, Shahril. Mari sini kita bergambar sama!” saya menarik tangan seorang mahasiswa untuk meneman saya yang sedang dikepung oleh muslimat.
Saya tidak selesa dengan perkembangan itu.
Namun kemuncaknya ialah di surau malam itu.
Seorang perempuan mahu bergambar dengan saya hingga hampir-hampir sahaja beliau menyentuh saya. Lebih memburukkan keadaan, perempuan itu menyuruh Pengerusi Surau mengambil gambar kami berdua.
Saya berasa sangat malu dan serba salah dibuatnya.
“Maafkan saya tuan. Semenjak kebelakangan ini kejadian macam ini selalu terjadi. Risau saya dibuatnya,” saya cuba meredakan rasa janggal yang menimpa jemaah surau yang kaget dengan kejadian itu.
“Inilah akibatnya apabila banyak menulis tentang CINTA!” saya mahu memberikan kata kuncinya.
“Ehh ustaz, kena tulis banyak lagi tentang CINTA. Sebab cinta itulah remaja kita hancur dan murtad pun ada!” kata pakcik-pakcik itu.
Saya menarik nafas lega. Mujurlah pakcik-pakcik tersebut mempunyai perspektif yang selari dengan pandangan saya..
“Rasanya perempuan tadi tu sedang terganggu fikiran. Putus cinta nampaknya!” kata Pengerusi Surau.
Mungkin juga. Saya sendiri berasa begitu.
KAMI BUKAN ARTIS
Sesungguhnya saya bukan artis, bukan selebriti, bukan juga idola atau apa sahaja yang sebahagian anda bayangkan. Saya adalah seorang lelaki, Muslim, yang bukan mahram anda dan mengharapkan ada secebis haya’ untuk bertindak sebagai benteng yang membatas tindak tanduk kita.
Jika kita mengagumi tulisan penulis, dakwah pendakwah, kolum kolumnis dan novel novelis, janganlah dimanifestasikan kekaguman itu sama dengan cara peminat nyanyian penyanyi atau lakonan pelakon, untuk bergambar bersama-sama antara seorang lelaki dan seorang perempuan kerana Syaitan tidak membezakan status atau profesyen kita. Dia sentiasa menjadi pihak ketiga dalam sekeping gambar yang menghimpunkan ‘kita berdua’.
Mungkin ini maksud sebenar kata-kata orang tua, “jangan bergambar bertiga, nanti ada yang mati!” Hakikatnya gambar bertiga itu ialah dua insan yang bukan Mahram bergambar bersama, Syaitan menjadi orang ketiga, dan pemangsa itu akan membunuh salah seorang atau kedua-duanya.
Elakkanlah bergambar solo dengan mana-mana lelaki yang bukan Mahram anda, baik bergambar dengan saya atau sesiapa sahaja. Begitu juga dengan anak muda, janganlah dibiasakan bergambar dengan perempuan-perempuan yang bukan ibu, adik beradik perempuan atau opah wan anda.
Ia menyalahi adab, adat dan Syariat kita.
hadith-malu
“Sesungguhnya di antara perkara yang difahami oleh manusia daripada pesanan sekalian Nabi ialah, jika kamu tiada rasa malu, buatlah apa sahaja yang engkau mahu!” [Hadith al-Bukhari : 3224]
ABU SAIF @ www.saifulislam.com
68000 AMPANG
Older Posts Home
MENU UTAMA
Halaman
e-Quran
e-Bacaan
Info Solat
Cadangan
Hubungi Kami
Advertisement

Ruangan Video



Kitab Tartil al-Quran al-Kareem

Category

  • SEJARAH
  • TAZKIRAH

Tafsir Quran al-'Azim
2011@Fakulti Quran Sunnah. Hak Cipta Terpelihara.

Projek Khas : Subjek Kajian Hadis dan al-Quran di Era ICT
Designed by PatchiDesign
Hit Counter
Jabatan Quran dan Sunnah
Fakulti Quran Sunnah, Universiti Sains Islam Malaysia (USIM)
71800, Nilai, Negeri Sembilan, Malaysia
E-mel: nisa.usim@gmail.com